Berita | Dakwah tanpa Panitia

Berita

Dakwah tanpa Panitia

KALAU pagi ini engkau bisa buang air besar di WC, bersyukurlah. Di pedalaman, masih ada da’i kita yang harus menggali tanah untuk sekedar buang air. Di sejumlah titik di tengah hutan, terdapat da’i yang berdakwah sendirian, mengajari para muallaf, meninggalkan hiruk-pikuk kota. Ada juga yang tinggal di masjid sunyi tanpa fasilitas MCK. Jika sewaktu-waktu perlu MCK, mereka harus berjalan kaki berkilo-kilometer.

Seseorang mengantarkan uang kepada satu da’i pedalaman itu, tapi ia menolak. Dakwah di kota lebih memerlukan uang. Beri kami do’a yang tulus. Jika mau bantu, berikan saja sarana komunikasi. Untuk menelpon, mereka harus berjalan jauh ke atas gunung agar memperoleh sinyal GSM. Atau berikan alat yang dapat menghasilkan listrik yang mencukupi untuk menghidupkan komputer, charge HP dan syukur bisa untuk yang lain.

Apalagi yang diperlukan? Seorang sarjana S-1 ilmu agama yang bersedia menjadi istri dan siap berjuang di tengah hutan, sebab untuk mengajarkan agama Islam di sekolah yang ada di sana bagi anak kaum muslimin, harus guru agama yang memenuhi syarat menjadi PNS.

Sampai kapan mereka berdakwah di sana? Sampai beranak-cucu, atau sampai habis umur ini, atau sampai ada tempat yang lebih memerlukan dakwah.

Mereka gigih berdakwah bersebab rasa takutnya kalau sampai ada orang-orang yang di sana dalam keadaan belum pernah mendengar tentang Islam. Mereka berdakwah –bukan sekedar jadi pembicara– di pedalaman bukan karena tak mampu berwirausaha di kota, tapi karena ingin jadi sebab datangnya hidayah.

Developed by ©
saffix
2017 - 2020